Ngopi Pagi: Jumat, 24 Juli 2020

Menu pagi ini: restrukturisasi kredit, konversi pembangkit listrik diesel, ancaman resesi Australia, dan PDB Indonesia.

Jika Diperlukan, Restrukturisasi Kredit Bisa Diperpanjang ― Berdasarkan data OJK, sampai dengan 13 Juli 2020, realisasi restrukturisasi kredit di perbankan mencapai Rp 776,99 triliun dengan jumlah nasabah sebanyak 6,75 juta. Sementara restrukturisasi di perusahaan pembiayaan senilai Rp 148,7 triliun dengan jumlah kontrak yang disetujui sebanyak 4,04 juta per 21 Juli 2020. [Dimas Waraditya Nugraha, Kompas.id]

Pandemi Tak Surutkan Kinerja Sektor Energi ― Ditargetkan pembangkit listrik berbahan bakar diesel yang dikonversi menjadi gas bumi totalnya mencapai kapasitas sekitar 1,7 Giga Watt di 52 lokasi. Menteri ESDM menugaskan PLN untuk melaksanakan kegiatan gasifikasi pembangkit tenaga listrik dan pembelian LNG dari Pertamina dalam rangka konversi penggunaan diesel dengan Liquefied Natural Gas (LNG). [EBTKE Kementrian ESDM]

Di depan mata Australia, ancaman resesi pertama dalam 3 dekade ― Bendahara Australia Josh Frydenberg mengatakan, defisit anggaran bisa saja melonjak menjadi A$ 185 miliar hingga 30 Juni, hampir sepersepuluh dari total PDB. Di periode yang sama tahun lalu, defisit anggara Australia hanya tercatat sebesar A$ 86 miliar. [Channel News Asia / Kontan.co.id]

Perbandingan PDB Indonesia dan Negara Ekonomi Terbesar Dunia 2024 ― Setelah Tiongkok dan Jepang berada di posisi 5 besar, Indonesia dan India diprediksi akan menggantikan posisi Inggris dan Jerman. "Kerja keras penanganan Covid-19 di tahun ini akan sangat menentukan pemulihan di tahun-tahun berikutnya," tulis Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. [Pingit Aria Mutiara Fajrin, Katadata.co.id]