Ngopi Pagi: Kamis, 23 Juli 2020

Menu pagi ini: impor gula, cukai rokok, penjualan e-dagang, serta konsumsi & investasi.

Ada (Impor) Gula, Ada "Semut" ― Kementerian Perdagangan membuat regulasi itu agar gula impor dari India dapat masuk ke Indonesia. Akomodasi ini merupakan "barter" agar ekspor kelapa sawit Indonesia ke India bisa berjalan lancar. [Hendriyo Widi dkk, Kompas.id]

Simplifikasi Tarif Cukai Ancaman Bagi Sektor IHT, INDEF: Waspadai Naiknya Rokok Ilegal ―  "Jika semakin eksesif dan dipaksakan, kelompok usaha yang di struktur dua akan kolaps karena kalah bersaing, dan yang harus diwaspadai kalau produk dari golongannya hilang di pasaran, justru rokok ilegal bisa makin naik. Sudah enggak optimal pendapatannya, enggak mencapai target juga di sisi kesehatan," tutup Enny. [JPNN.com]

E-Dagang Dorong Penjualan Produk ― Sebagian besar penjualan produk secara konvensional  tumbuh negatif karena pembatasan sosial. Sebaliknya, penjualan produk yang sama di platform e-dagang meningkat. [Erika Kurnia, Kompas.id]

Memulihkan Konsumsi dan Investasi ― Secara sektoral,  54,9 persen investasi sepanjang Januari-Juni 2020 adalah sektor tersier atau sektor jasa dan industri jasa, yakni Rp 220,9 triliun. Adapun sektor sekunder dan sektor primer yang dibutuhkan Indonesia karena padat karya, masing-masing 32,2 persen dan 12,9 persen. [Karina Isna Irawan & Agnes Theodora, Kompas.id]