Uang Tip "Seikhlasnya"

Sudah tiga bulan ini, saya membeli air isi ulang galon menggunakan jasa pengantaran. Prosesnya mudah, cukup kirim pesan lewat WhatsApp. Tak lama berselang, pesanan akan segera datang. Namun, dulu waktu pertama kali memesan, saya dibuat kikuk saat orang yang mengantarkan galon meminta uang tip. 

"Seikhlasnya saja," kata beliau. Padahal, saat memesan di WhatsApp, tidak dijelaskan soal uang ikhlas ini oleh narahubung yang saya kontak. "Yang lain juga pada ngasih," tambah pengantar galon tersebut meyakinkan saya. 

Uang tip mungkin sudah menjadi hal yang lumrah di sekitar kita. Berdasarkan survei dari MasterCard, sepertiga orang Indonesia biasa memberikan tip di restoran. Pun saat menggunakan layanan ojek daring, kita akan disuguhi pilihan untuk memberi uang tip kepada pengemudi usai menggunakan jasa mereka.
 
Lalu mengapa membahas uang tip di artikel ini? Saya baru saja membaca makalah dari O.H. Azar yang terbit di Journal of Economic Perspectives dengan judul The Economics of Tipping. Dalam pembukaannya, ia menulis:
Restoran dan bar adalah industri di mana pemberian uang tip paling terlihat. Dalam industri makanan di Amerika Serikat (AS) saja, Azar (2011) memperkirakan bahwa uang tip tahunan mencapai 47 milyar dollar AS (atau sekitar 677 triliun rupiah dalam kurs hari ini, -red). 
Saya jadi penasaran, berapa ya total perputaran uang tip "seikhlasnya" di negara kita?